SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA SAAT INI
BAB I
PENDAHULUAN
I.
LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara yang mutu
pendidikannya masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain bahkan
sesama anggota negara ASEAN pun kualitas SDM bangsa Indonesia masuk dalam
peringkat yang paling rendah. Hal ini terjadi karena pendidikan di Indonesia
belum dapat berfungsi secara maksimal.
Menurut survey
political and Economic Rick Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia
berada pada urutan ke-1 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah
Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia
memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57
negara yang disurvei dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai
follower bukan pimpinan teknologi dari 5 negara di dunia.
Memasuki abad ke- 21
gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. Kemajaun teknologi dan
perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi
berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia
terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain.
Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan
didalam mutu pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu
diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Pendidikan memang
telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk
pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya
manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di
negara-negara lain.
Masa depan suatu bangsa sangat tergantung pada
mutu sumber daya manusianya dan kemampuan peserta didiknya untuk menguasai ilmu
pengetahuan dan tekhnologi. Hal tersebut dapat kita wujudkan melalui pendidikan
dalam keluarga, pendidikan masyarakat maupun pendidikan sekolah.
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
Seperti apakah
system pendidikan yang dijalankan di Indonesia?
2.
Bagaimana kualitas
pendidikan di Indonesia saat ini ?
3.
Apa saja yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia
4.
Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan
pendidikan di Indonesia?
III.
TUJUAN
PENULISAN
1.
Untuk
mengetahui system pendidikan yang dijalankan di Indonesia
2.
Mendeskripsikan kualitas
pendidikan di Indonesia saat ini.
3.
Mendeskripsikan hal-hal
yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
4.
Mendeskripsikan solusi
yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.
IV.
MANFAAT PENULISAN
1.
Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan sebagai salah satu solusi
sumbangsih untuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada di Indonesia.
2.
Bagi Masyarakat
Dapat dijadikan sebagai bentuk penyuluhan akan
kesadaran pentingnya pendidikan bagi masyarakat.
3.
Bagi Guru/pengajar
Dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengajar
agar system pendidikan dapat berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan yang ada
di Indonesia.
4.
Bagi Mahasiswa
Dapat dijadikan sebagai bahan kajian belajar
dalam meningkatkan prestasi diri pada khususnya dan meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia pada umumnya.
V.
TINJAUAN
PUSTAKA
Dalam perspektif Pembangunan
Pendidikan Nasional, pendidikan harus lebih berperan dalam membangun seluruh
potensi manusia agar menjadi subyek yang berkembang secara optimal dan
bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Dalam konteks demikian,
pembangunan pendidikan itu mencakup berbagai dimensi yang sangat luas yang
meliputi dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dalam perspektif sosial,
pendidikan akan melahirkan insan-insan terpelajar yang mempunyai peranan
penting dalam proses perubahan sosial di dalam masyarakat. Dalam perspektif
budaya, pendidikan merupakan wahana penting dan medium yang efektif untuk
mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan etos di kalangan
warga masyarakat. Dalam perspektif politik, pendidikan harus mampu
mengembangkan kapasitas individu untuk menjadi warga negara yang baik (good
citizens), yang memiliki kesadaran akan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan
bermasyarakat , berbangsa, dan bernegara. Karena itu, pendidikan harus dapat
melahirkan individu yang memiliki visi dan idealisme untuk membangun kekuatan
bersama sebagai bangsa. Dalam tiga tahun mendatang, pembangunan pendidikan
nasional di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan serius, terutama
dalam upaya meningkatkan kinerja yang mencakup (a) pemerataan dan perluasan
akses; (b) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing; (c) penataan tata
kelola, akuntabilitas, dan citra publik; dan (d) peningkatan pembiayaan. Dalam
upaya meningkatkan kinerja pendidikan nasional, diperlukan suatu reformasi
menyeluruh yang telah dimulai dengan kebijakan desentralisasi dan otonomi
pendidikan sebagai bagian dari reformasi politik dalam meningkatkan mutu
pendidikan .
Ki
Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, peletak dasar
yang kuat pendidkan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan
generasi yang akan datang merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut :
Pendidikan
umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan
batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak
boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan
hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras
dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14)
VI.
PEMBAHASAN MASALAH
1.
Sistem
Pendidikan yang di Anut di Indonesia
Indonesia sekarang menganut sistem pendidikan
nasional. Namun, sistem pendidikan nasional masih belum dapat dilaksanakan
sebagaimana mestinya. Ada beberapa sistem di Indonesia yang telah dilaksanakan,
di antaranya:
a.
Sistem
Pendidikan Indonesia yang berorientasi pada nilai.
Sistem pendidikan ini telah diterapkan sejak
sekolah dasar. Disini peserta didik diberi pengajaran kejujuran, tenggang rasa,
kedisiplinan, dsb. Nilai ini disampaikan melalui pelajaran Pkn, bahkan nilai
ini juga disampaikan di tingkat pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
b.
Indonesia
menganut sistem pendidikan terbuka.
Menurut sistem pendidikan ini, peserta didik di
tuntut untuk dapat bersaing dengan teman, berfikir kreatif dan inovatif
c.
Sistem
pendidikan beragam.
Di Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa,
daerah, budaya, dll. Serta pendidikan Indonesia yang terdiri dari pendidikan
formal, non-formal dan informal.
d.
Sistem
pendidikan yang efisien dalam pengelolaan waktu.
Di dalam KBM, waktu di atur sedemikian rupa
agar peserta didik tidak merasa terbebani dengan materi pelajaran yang
disampaikan karena waktunya terlalu singkat atau sebaliknya.
e.
Sistem
pendidikan yang disesuaikan dengan perubahan zaman.
Dalam sistem ini, bangsa Indonesia harus
menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini. Oleh karena itu, kurikulum di
Indonesia sering mengalami perubahan / pergantian dari waktu ke waktu, hingga
sekarang Indonesia menggunakan kurikulum KTSP.
2. Kualitas
pendidikan di Indonesia saat ini
Kualitas pendidikan di Indonesia masih menjadi perhatian. Hal
ini terlihat dari banyaknya kendala yang mempengaruhi peningkatan kualitas
pendidikan di Indonesia. Sarana pembelajaran juga
turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi
penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang
tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup
dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara
normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.
Sehingga perlu
diteliti dan dicermati agar kelak bangsa Indonesia dapat meningkatkan kualitas
pendidikan dengan lancar dan dapat bersaing di Era Globalisasi.
3.
Penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia
Yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di
Indonesia secara umum, yaitu:
a.
Efektifitas Pendidikan Di
Indonesia
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta
didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan
sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru,
instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan
pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
b.
Efisiensi Pengajaran Di
Indonesia
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan
proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika
kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses
yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di
Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih
standar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya
pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan
banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di
Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia
Indonesia yang lebih baik.
c.
Standardisasi Pendidikan
Di Indonesia
Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam
pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar
dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard dan kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk
badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut
seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaimana agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan
yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar
memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga
adalah memenuhi nilai di atas standar saja.
d.
Rendahnya Kualitas Sarana
Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan
media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium
tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.
Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki
perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat
146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang
kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12%
berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak
201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan
angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada
umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan
persentase yang tidak sama.
e.
Rendahnya Kualitas Guru / Pengajar
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum
memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana
disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran,
melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan,
melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
f.
Rendahnya Kesejahteraan
Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya
kualitas pendidikan Indonesia.
g.
Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru,
dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan.
h.
Kurangnya Pemerataan
Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar.
Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga
Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak
usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini
termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih
rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia
dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu
akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh
karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat
untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
i.
Rendahnya Relevansi
Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data
BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran
terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5%
dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan
kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%,
dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3
juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga
menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara
hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang
materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta
didik memasuki dunia kerja.
j.
Mahalnya Biaya Pendidikan
4. Solusi dari
Permasalahan-permasalahan Pendidikan di Indonesia
Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi
yang dapat diberikan yaitu:
Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial
yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia
sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab
neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung
jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem
ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung
segala pembiayaan pendidikan negara.
Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang
berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan
masalah kualitas guru dan prestasi siswa dengan peningkatan kesejahteraan, juga
diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas
guru. Rendahnya prestasi siswa dengan meningkatkan
kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana
pendidikan, dan sebagainya.
VII.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kualitas pendidikan di
Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas
pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu
efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang
dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:
(1). Rendahnya sarana
fisik,
(2). Rendahnya kualitas
guru,
(3). Rendahnya
kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi
siswa,
(5). Rendahnya kesempatan
pemerataan pendidikan,
(6). Rendahnya relevansi
pendidikan dengan kebutuhan,
(7). Mahalnya biaya
pendidikan.
Adapun solusi yang dapat
diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem
sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru
serta prestasi siswa.
A.
Saran
Perkembangan dunia di era
globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional
yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah
satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan
dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya
terlebih dahulu agar mampu membawa bangsa ini
bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.
DAFTAR PUSTAKA
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/edukasi/article/viewFile/971/908
https://meilanikasim.wordpress.com/2009/03/08/makalah-masalah-pendidikan-di-indonesia/
https://van88.wordpress.com/makalah-permasalahan-pendidikan-di-indonesia/
https://pramithasari27.wordpress.com/pendidikan/kualitas-pendidikan-di-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar