Kamis, 16 Juni 2022

Makalah Jual Beli Online

 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

            Setiap muamalah pasti terjadi di antara dua orang (pihak), tidak lepas dari kemungkinan berupa pertukaran barang dengan barang; atau barang dengan sesuatu yang berada dalam tanggungan; atau tanggungan dengan tanggungan.[1]

            Jual Beli merupakan salah satu tuntunan Rasulullah SAW untuk mencari nafkah dan rizky demi melanjutkan kehidupan sekaligus  menjalankan kodrat manusia sebagai khalifah di muka bumi ini yang tak lain adalah sebagai ciptaan Allah yang ditakdirkan untuk memanfaatkan kekayaan yang ada di alam semesta ini demi melangsungkan kehidupannya. Nabi Muhammad SAW yang sejatinya lebih dikenal sebagai seorang Rasul, pemimpin masyarakat dan pendakwah ternyata sangat ulung sebagai “Tajirr” atau pedagang[2]. Itu tercatat di berbagai literatur-literatur sejarah kebudayaan Islam yang pernah kita pelajari di sekolah maupun di perkuliahan.

            Aktifitas jual beli sudah menjadi pokok utama dalam peradaban ekonomi manusia yang ada di dunia, analoginya adalah pondasi sebuah bangunan, apabila pondasinya rapuh maka bangunannya pun pula rapuh, apabila aktifitas jual beli ini menurun maka peradaban ekonomi manusia pun terhambat atau tidak berkembang.

            Sifat manusia yang pada dasarnya serakah dan selalu mengikuti hawa nafsunya mengarahkan kepada macam-macam praktek yang tidak baik bahkan diharamkan seperti penipuan, praktek gharar dan riba’. Oleh karena itu agama Islam melalui produk fiqh muamalahnya mencoba memecahkan permasalahan mengenai isu-isu degradasi moral dalam jual beli ini.

            Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat ini, tentunya banyak perusahaan-perusahaan marketplace yang mulai tumbuh berkembang, oleh karena itu praktek jual beli secara online sudah mulai dilakukan oleh masyarakat dan tentunya muncul resiko akan ada benih-benih kejahatan dalam bermuamalah, seperti penipuan.

            Akad dalam fiqh muamalah yang berhubungan dengan jual beli online adalah Akad Salam. Salam adalah salah satu bentuk jual beli dimana uang harga barang dibayarkan secara tunai, sedangkan barang yang dibeli belum ada, hanya sifat-sifat, jenis dan ukurannya sudah disebutkan pada waktu perjanjian dibuat[3]

            Hasil penelitian Kaspersky Lab dan B2B International, sebanyak 26 persen konsumen Indonesia kehilangan uang karena menjadi sasaran tindak penipuan online. Indonesia menjadi negara dengan korban tertinggi disusul Vietnam 26 persen dan India 24 persen. Ros Horgan (Pimpinan Global Divisi Pencegahan Penipuan Kapersky Lab) mengatakan bahwa bentuk ancaman keuangan online terhadap konsumen semakin berkembang. Selain penipuan online dengan gaya tradisional terdapat pula para penjahat siber yang mengeksploitasi serta mencari cara baru untuk menipu konsumen.[4]

            Oleh karena itu pada makalah ini akan dijelaskan salah satu dari beberapa degradasi moral yang ada pada jual-beli yaitu jual beli yang dilarang karena kerugian yang disebabkannya yakni penipuan.[5] Dan permasalahan-permasalahan yang diangkat adalah dari isu-isu kontemporer.

 

 

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Latar Belakang Jual Beli Online

2.      Landasan Normatif dan Hukum Jual Beli Online

3.      Modus- Modus Penipuan Jual-Beli Online

4.      Penipuan Jual Beli Online Perspektif Islam

C.    Tujuan Makalah

1.      Untuk mengetahui latar belakang munculnya jual beli online

2.      Untuk mengetahui Landasan normatif dan hukum jual beli online

3.      Untuk mengetahui macam-macam modus jual beli online

4.      Untuk mengetahui bagaimana penipuan jual beli perspektif Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

PEMBAHASAN

 

A.    Latar Belakang Jual Beli Online

Pada dasarnya, sistem jual beli telah diterapkan sejak masa Rasulullah SAW. Pada umumnya, orang memerlukan benda yang ada pada orang lain (pemiliknya) dapat dimiliki dengan mudah, tetapi pemiliknya terkadang tidak mau memberikannya. Terdapat beberapa pengertian mengenai jual beli, yang menurut bahasa jual beli (al-ba’i) merupakan menukar kepemilikan barang dengan barang[6] atau saling tukar menukar. Secara istilah (terminologi) terdapat beberapa pengertian jual beli, diantaranya yakni:

1.      Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang yang dilakukan dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.

2.      Pemilikan harta benda dengan jalan tukar-menukar yang sesuai dengan aturan syara.

3.      Saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola (tasharruf) dengan ijab dan qabul, dengan cara yang sesuai dengan syarat.

4.      Tukar-menukar benda dengan benda lain dengan cara yang khusus (dibolehkan).

5.      Penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik denga nada penggantinya dengan cara yang diperbolehkan.

6.      Akad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap. [7]

7.      Menurut Ibnu Qadamah, jual beli adalah pertukaran harta dengan harta umtuk menjadikan miliknya.

8.      Nawawi, jual beli adalah pemilikan harta benda secara tukar menukar yang sesuai dengan ketentuan syariah.

9.      Menurut Al-Hasani, mengemukakan bahwa jual beli adalah pertkaran harta dengan harta melalui sistem yang menggunakan cara tertentu. [8]

Seiring dengan kemajuan jaman, perkembangan kebudayaan dan teknologi, jual beli yang semula menggunakan sistem barter yaitu pertukaran barang satu dengan barang yang lainnya, lalu berubah dengan alat transaksi jual beli dengan uang, maka transaksi jual beli mulai dilaksanakan dengan adanya uang dengan barang. Beberapa dekade setelah itu manusia menemukan teknologi kartu kredit sebagai pengganti uang real dan kemudia pada masa kini kebiasaan jual beli dengan melalui online. Dengan kemajuan komunikasi dan informasi, telah membawa dampak pada kemajuan dalam dunia bisnis. Jual beli jarak jauh sudah merupakan kebiasaan yang berlaku di dunia bisnis pada saai ini. Dalam hal ini penjual dan pembeli tidak memperhatikan lagi masala hijab qabul secara lisan, tetapi cukup dengan perantara seperti kertas berharga, cek, wesel, dan sebagainya.[9]

Begitu juga dengan perkembangan pemasaran barang yang diperjual belikan, media pemasaran yang awalnya hanya dilaksanakan dengan saling bertemu antara pihak penjual dan pembeli, namun sekarang hal-hal ini sudah dapat dilakukan tanpa harus bertemu langsung dengan adanya perkembangan alat telekomunikasi berupa jaringan internet. Dari perkembangan bentuk transaksi jual beli pemasaran inilah kita mengenal dengan nama online shop.  

            Sejarah jual beli online:

a.    Belanja online pertama kali dilakukan di Inggris pada tahun 1979 oleh Michael Aldrich dari Redifon Computers. Ia menyambungkan televisi berwarna dengan komputer yang mampu memproses transaksi secara realtime melalui sarana kabel telepon.

b.    Sejak tahun 1980, ia menjual sistem belanja daring yang ia temukan di berbagai penjuru Inggris.

c.    Pada tahun 1980, belanja online secara luas digunakan di Inggris dan beberapa negara di daratan Eropa seperti Perancis yang menggunakan fitur belanja online untuk memasarkan Peugeot, Nissan, dan General Motors.

d.   Pada tahun 1992, Charles Stack membuat toko buku daring pertamanya yang bernama Book Stacks Unlimited yang berkembang menjadi Books.com yang kemudian diikuti oleh Jeff Bezos dalam membuat situs web Amazon.com dua tahun kemudian.

e.    Pada tahun 1994, Netscape memperkenalkan SSL encryption of data transferred online karena dianggap hal yang paling penting dari belanja daring adalah media untuk transaksi daringnya yang aman dan bebas dari pembobolan.

f.     Pada tahun 1996, eBay situs belanja daring lahir dan kemudian berkembang menjadi salah satu situs transaksi daring terbesar hingga saat ini.

Toko online di Indonesia baru mulai populer di tahun 2006. Pada akhir tahun 2008 jumlah toko online di Indonesia meningkat puluhan hingga ratusan persen dari tahun sebelumnya. Faktor pendukungnya adalah makin banyaknya pengguna internet di Indonesia, yang tadinya hanya sekitar 2.000.000 orang pada tahun 2000 menjadi 25.000.000 pengguna pada tahun 2008 (internetworldstats.com, data hingga Juni 2008). Faktor kedua yang menyebabkan hal tersebut, karena semakin mudah dan murahnya koneksi internet di Indonesia, ketiga semakin banyak pendidikan dan pelatihan pembuatan toko online dengan harga sangat terjangkau. Bentuk kegiatan jual beli ini tentu memiliki banyak nilai positif, diantaranya kemudahan dalam melakukan transaksi karena penjual dan pembeli tidak perlu repot bertemu untuk melakukan transaksi. Dalam online shop, biasanya menawarkan barang, harga, dan juga gambar. Dari situlah pembeli memilih dan kemudian memesan barang yang biasanya akan dikirim setelah pembeli mentransfer uangnya.

Dalam Islam berbisnis mealui online diperbolehkan selagi tidak terdapat unsur-unsur riba, kezaliman, menopoli dan penipuan. Adapun beberapa syarat yang mendasar diperbolehkannya jual beli lewat online, yakni:

1)      Tidak melanggar ketentuan syari’at Agama, seperti transaksi bisnis yang diharamkan, terjadinya kecurangan, penipuan dan menopoli.

2)      Adanya kesepakatan perjanjian diantara dua belah pihak (penjual dan pembeli) jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan antara sepakat (Alimdha’) atau pembatalan (Fasakh). Sebagaimana yang telah diatur didalam Fikih tentang bentuk-bentuk option atau alternative dalam akad jual beli (Alkhiarat) seperti Khiar Almajlis (hak pembatalan di tempat jika terjadi ketidak sesuaian), Khiar Al’aib (hak pembatalan jika terdapat cacat), Khiar As-syarath (hak pembatalan jika tidak memenuhi syarat), Khiar At-Taghrir/Attadlis (hak pembatalan jika terjadi kecurangan), Khiar Alghubun (hak pembatalan jika terjadi penipuan), Khiar Tafriq As-Shafqah (hak pembatalan karena salah satu diantara duabelah pihak terputus sebelum atau sesudah transaksi), Khiar Ar-Rukyah (hak pembatalan adanya kekurangan setelah dilihat) dan Khiar Fawat Alwashaf (hak pembatalan jika tidak sesuai sifatnya).

3)        Adanya kontrol, sangsi dan aturan hukum yang tegas dan jelas dari pemerintah (lembaga yang berkompeten) untuk menjamin bolehnya berbisnis yang dilakukan transaksinya melalui online bagi masyarakat. Jika bisnis lewat online tidak sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan yang telah dijelaskan di atas, maka hukumnya adalah “Haram” tidak diperbolehkan. Kemaslahatan dan perlindungan terhadap umat dalam berbisnis dan usaha harus dalam perlindungan negara atau lembaga yang berkompeten. Agar tidak terjadi hal-hal yang membawa kemudratan, penipuan dan kehancuran bagi masyarakat dan negaranya.

 

B.       Landasan Normatif dan Hukum Jual Beli Online

1.    Al Qur’an

a.         Al-Baqoroh ayat 275

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ  ذَلِكَ بِأَنّهُمْ قَالُوَاْ إِنّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرّبَا

“Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”(Al-Baqoroh Ayat 275)

b.        An-Nisa’ Ayat 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (An-Nisa’ Ayat 29)

c.       Al-Baqoroh ayat 282

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.

2.      Hadist Rasulullah SAW

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ : أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ قَالَ : عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ } رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

Dari Rifa’ah bin Rafi’, Nabi pernah ditanya mengenai pekerjaan apa yang paling baik. Jawaban Nabi, “Kerja dengan tangan dan semua jual beli yang mabrur” [HR Bazzar no 3731 dan dinilai shahih oleh al Hakim. Baca Bulughul Maram no 784].[10]

 

3.      Kaidah Ushulul-Fiqh

الأصل فى المعاملة الإباحة, إلاّ أن يدلّ دليل على تحريمها

Segala sesuatu yang berhubungan dengan muamalah itu diperbolehkan, kecuali ada dalil yang mengharamkan

4.      Fatwa DSN MUI

FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang JUAL BELI SALAM

5.    Hukum Undang-Undang

a.       Pasal 1320 KUH Perdata (syarat-syarat terjadinya suatu persetujuan yang sah)

Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat;

1)      kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;

2)      kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

3)      suatu pokok persoalan tertentu;

4)      suatu sebab yang tidak terlarang.

b.      Pasal 378 KUH Pidana (pelaku penipuan)

“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang rnaupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun”.

c.       Pasal 1 ayat 2 UU ITE

“Perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya”

d.      Pasal 9 UU ITE

“Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui sistem elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan”

 

C.       Modus- Modus Penipuan Jual-Beli Online

1.      Penipuan Berkedok Investasi

            Penipuan jenis ini dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu skema Ponzi, skema piramida dan inventory loading.

Dalam skema Ponzi, investor dijanjikan akan memperoleh penghasilan dengan cepat dan berlipat (quick and rich scheme) dari sejumlah uang yang diinvestasikan. Padahal uang yang diperoleh investor tersebut berasal dari investor lain yang baru bergabung.

Sang Bandar dalam skema ini juga menjadi pemain aktif. Ia sendiri yang mengelola uang investasi. Investor hanya perlu duduk smabil menunggu masa panen datang. Biasanya, uang yang terkumpul akan digunakan untuk jual beli valuta asing.

            Skema piramida hamper mirip dengan skema Ponzi. Imbalan yang diterima berasal dari investor yang baru bergabung, hanya saja dalam skema piramida investor juga harus aktif mencari investor lain. Jika tidak bias mencari investor lain, ia tidak akan mendapat apa-apa.

Inventory Loading, jenis penipuan inilah yang sekarang paling sering dijumpai didunia maya. Bagi orang awam, model ini lebih susah dibedakan dengan investasi yang legal. Karena, dalam modus ini ada produk atau jasa lain yang diberikan sehinga seolah-olah seperti pemasaran berjenjang. Produk yang ditawarkan tidak hanya berupa barang, tetapi juga jasa yang nilainya sebenarnya jauh lebih kecil dari investasi yang harus dikeluarkan.

2.      Penipuan Lewat Undian Berhadiah

            Modus penipuan ini sudah sering dijumpai di dunia maya, biasanya akan ada iklan yang muncul saat mengunjungi suatu website. Aksi modus ini sangat sederhana, yaitu dengan mengajak korban bergabung dalam situs undian online dengan iming-iming hadiah yang besar. Kemudian korban diharuskan mengisi data diri dan membayar sejumlah uang sebagai biaya administrasi sebelum akhirnya mengikuti undian.

3.      Penipuan Menggunakan Modus Phising (Password Harvesting Fishing)

            Modus penipuan ini adalah tindakan penipuan yang menggunakan e-mail palsu atau situs website palsu yang bertujuan untuk mengelabuhi user sehingga pelaku bias mendapatkan user tersebut.[11]

Tindakan ini bisa berupa e-mail yang berasal dari lembaga resmi, misalnya bank dengan tujuan mendapatkan data pribadi nasabahnya seperti PIN, nomor rekening atau nomor kartu kredit.

            Menurut IGN Mantra dosen peneliti cyber war dan security inspection menjelaskan bahwa phising adalah percobaan penipuan menggunakan surel (surat elektronik) dengan tujuan untuk mendapatkan username, password, token, dan informasi-informasi sensitif lainnya yang dikirim melalui surel. Surel phising datang seolah-olah dari perusahaan/organisasi di mana user adalah anggota/member[12].

4.      Penjualan Produk Dengan Harga Miring (E-buy Scam)

            Salah satu platform belanja online terbesar e-Bay kerap menipu konsumen. Namun, penipu tersebut bukan datang dari pengembang situs tersebut, melainkan para penjual yang ada dalam e-Bay.

Beberapa penjual di e-Bay sering kali mengunggah gambar suatu produk dengan harga yang sangat murah. Atau bisa dibilang jauh dari harga rata-rata produk sejenis yang dijual di situs lainnya. Kalau sudah begini, dapat dipastikan penjual tersebut “abal-abal”.

            Kalau pun harga yang dijual lebih murah, range harganya pasti tidak jauh berbeda dengan pedagang lain. Sebab harga murah yang terlampir di situs e-Bay merupakan salah satu taktik penjual untuk mendapat perhatian dari para pengunjung.

5.      Nigerian Scam

            Penipuan ini menggunakan cara  menghibahkan suatu barang atau harta tertentu. Si penipu berpura-pura ingin mewariskan harta ataupun benda kesayangannya kepada orang lain dengan berbagai macam alasan. Tujuannya tidak lain untuk mendapatkan data diri si korban.

6.      HYIP atau High Yield Investment Program

            Merupakan salah satu jenis program yang menggunakan skema Ponzi. 90% dari HYIP adalah bohong dan 10% sisanya menunggu antrian untuk dicap sebagai pembohong, mengapa? Bos HYIP biasanya menggunakan modal yang besar untuk mendapatkan dana yang besar pula. Mereka rela membayar member mereka selama beberapa tahun untuk meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan calon investor, sehingga investor yang tidak berhati-hati akan langsung melakukan investasi secara besar - besaran.

 

7.      Money handling 

            Modus jenis ini melibatkan pihak ketiga untuk menerima dana yang dicuri melalui email scam lain ke sebuah account sebelum kemudian memindahkan uang dari luar negeri, setelah dikurangi komisi.

8.      Modus Menggunakan Cara Verification Code Scan

            Bagi yang suka berbelanja online ataupun streaming film dari internet pasti sudah tidak asing lagi dengan metode penipuan online yang satu ini. Verification code scam merupakan penipuan dalam bentuk kode verifikasi yang biasanya dikirimkan ke smartphone. Kode tersebut berisi 4-6 digit angka yang harus diketik ulang ke situs yang bersangkutan untuk mendapat akses masuk ke dalamnya.

            Biasanya dalam kasus ini korban diminta untuk melampirkan nomor KTP ataupun nomor kartu debit, setelah korban mengetahui nomor kartu debit, penipu mampu menguras habis isi kartu debit.

9.      Program Pay To

            Program ini menggunkan cara menawarkan untuk mengikuti program yang akan membayar korban jika korban mengklik email atau banner. Di antaranya memang penipu membayar, namun sebagian besar situs tersebut tidak membayarnya. Biasanya penyelenggara bisnis ini akan menyaratkan korban harus memperoleh poin sejumlah tertentu (misalnya 100 USD) sebelum penipu membayar korban. Kenyataannya, poin yang diperoleh tidak pernah mencapai jumlah tersebut.

D.    Penipuan Jual Beli Online Perspektif Islam

       Sistem muamalah dalam Islam mengenal bahwa segala sesuatu pada dasarnya boleh dilakukan dengan tujuan kemaslahatan bersama. Akan tetapi kebolehan tersebut dapat juga berubah menjadi sesuatu yang dilarang atau bentuk hukum lainnya apabila terdapat alasan yang medukungnya.

       Demikian pula dalam hal berbisnis yang disini berfokus pada jual beli online (E-commerce) yang merupakan salah satu bentuk dari muamalah. Pada prinsipnya kegiatan berbisnis merupakan suatu bentuk usaha yang diperbolehkan menurut ajaran Islam. Prinsip ini ditegaskan dan didukung dalam Al-Qur’an dan As-sunnah serta keputusan ulama mengenai hal ini sebagai sesuatu yang telah dipraktikkan pada masa nabi SAW sampai sekarang.

       Tetapi ada beberapa alasan yang dapat mengakibatkan berbisnis (E-commerce) itu menjadi sesuatu yang terlarang, jika seandainya hal tersebut hanya akan menyebabkan dampak yang tidak baik bagi umat. Kesepakatan dan kerelaan (adanya unsur suka sama suka) sangat ditekankan dalam setiap bentuk bisnis. Namun, hanya dengan kesepakatan dan kerelaan yang bermula dari suka sama suka tersebut, tidak menjamin transaksi tersebut dapat dinyatakan sah dalam islam yang mengatur adanya transaksi yang dibolehkan dan tidak dibolehkan.

       Hal yang sering menjadi problematika dalam dunia bisnis salah satunya adalah kesamaran. Kesamaran dalam dunia bisnis sangatlah dilarang, karena sering melibatkan ketidakpastian (uncertainely) dan kekaburan. Kurangnya informasi tentang segala sesuatu yang terdapat dalam transaksi jual beli akan mendatangan sifat keraguan dan ketidakpastian, dan hal ini akan menghapuskan keadilan dalam transaksi tersebut.

       Berbisnis, khususnya disini menekankan pada bisnis online yang didalamnya mengandung unsur kesamaran (gharar) ini mengandung permainan atau untung-untungan, meragukan, dan mengadung unsur penipuan dilarang dalam Islam. Islam melarang jual beli tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Rasulullah SAW dalam hadistnya.

       Dan juga, berbisnis yang mengandung unsur gharar dilarang karena hal tersebut melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam etika Islam.

       Dalam hal ini akan muncul selanjutnya adalah tadlis (unknown to one party) dimana terdapat ketidaktahuan diantara pihak-pihak yang bertransaksi sehingga dapat menimbulkan kecurangan atau penipuan yang disebabkan hanya salah satu pihak yang mengetahui adanya informasi (asimmetric information) atau spesifikasi dari objek yang akan diperjual belikan. Hal ini dapat diartikan sebagai pelanggaran terhadap prinsip kerelaan atau suka sama suka. Hal tersebut dapat terjadi dalam 4 kategori, yaitu: kualitas, kuantitas, harga, dan waktu penyerahan.

       Kemudahan dalam betransaksi yang dihadirkan melalui e-commerce justru tidak sedikit menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dan beresiko tinngi yang menimbulkan kerugian. Resiko yang paling domina adalah kasus penipuan. Contoh kasus penipuan yang sering terjadi adalah setelah uang ditransfer barang tak kunjung datang, barang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah dipaparkan dan lain-lain.

       Islam memandang kasus penipuan dalam jual beli online adalah hal yang sangat fatal karena telah melanggar asas-asas dalam Islam yang sudah tertera sangat jelas dalam pedoman kitab suci umat Islam yakni Al-qur’an (Q.S An-Nisa {4}:29). Kasus penipuan pada jual beli online telah melanggar asas amanah khususnya dari pihak penjual oline, untuk menghindari pelanggaran asas amanah tersebut penjual online harus memberikan informasi sejujurnya kepada pihak pembeli yang tidak banyak mengetahuinya. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kasus penipuan (gharar) atau kemungkinan risiko yang terjadi lainnya.

       Dalam hukum Islam, tindak pidana penipuan jual beli online termasuk ke dalam jarimah ta’zir. Jarimah ta’zir adalah perbuatan tindak pidana yang bentuk dan ancaman hukumnya ditentukan oleh penguasa sebagai pelajaran bagi pelakunya (ta’zir artinya: ajaran atau pelajaran) (Munajat Makhrus, 2009: 35). Menurut Syarbini al-Khatib, bahwa ayat al-Qur’an yang dijadikan landasan adanya jarimah ta’zir adalah Qur’an Surat al-Fath ayat 8-9 yang artinya:

إنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Artinya: 8. Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, 9. supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

       Dari terjemahan tersebut diatas, A.Hasan menterjemahkan: watu’aziruhu dengan: dan supaya kamu teguhkan (agamanya) dan untuk mencapai tujuan ini, satu diantaranya ialah dengan mencegah musuh-musuh Allah, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Syarbini al-Khatib (Jaih Mubarak, 2004: 47). Adapun Hadits yang dijadikan dasar adanya jarimah ta’zir adalah sebagai berikut:

1.      Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bahz ibn Hakim yang artinya: “Dari Bahz ibn Hakim dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi SAW menahan seseorang karena disangka melakukan kejahatan;

2.      Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abi Burdah yang artinya: “Dari Abu Burdah Al-Anshari RA. Bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tidak boleh dijilid diatas sepuluh cambuk kecuali didalam hukuman yang telah ditentukan oleh Allah ta’ala (Muttafaqun Alaih)”;

3.      Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah yang artinya “Dari Aisyah Ra. Bahwa nabi bersabda: Ringankanlah hukuman bagi orang-orang yang tidak pernah melakukan kejahatan atas perbuatan mereka, kecuali dalam jarimah-jarimah hudud”.

       Secara umum ketiga hadits tersebut menjelaskan tentang eksistensi ta’zir dalam syariat Islam. Hadits pertama menjelaskan tentang tindakan Nabi yang menahan seseorang yang diduga melakukan tindak pidana dengan tujuan untuk memudahkan boleh lebih dari sepuluh cambukan untuk membedakan dengan jarimah hudud. Dengan batas hukuman ini dapatlah diketahui mana yang termasuk jarimah hudud dan mana yang termasuk jarimah ta’zir. Menurut al-Kahlani, para ulama sepakat bahwa yang termasuk jarimah hudud adalah zina, pencurian, minum khamr, hirabah, qadzaf, murtad dan pembunuhan. Selain dari jarimah-jarimah tersebut, termasuk jarimah ta’zir meskipun ada juga beberapa jarimah yang diperselisihkan oleh para fuqaha, seperti liwath, lesbian, dan sedangkan hadits ketiga mengatur tentang tekhnis pelaksanaan hukuman ta’zir yang bias berbeda antara satu satu pelaku lainnya, tergantung kepada status mereka dan kondisi-kondisi lain yang menyertainya (Ahmad Wardi, 2005: 249-250).

Adapun pembagian jarimah ta’zir dari beberapa segi yaitu:

1.    Dilihat dari segi hak yang dilanggar, jarimah ta’zir dapat dibagi menjadi dua bagian:

a.       Jarimah ta’zir yang menyinggung hal Allah. yang dimaksud dengan Jarimah ta’zir melanggar hak Allah adalah semua perbuatan yang berkaitan kepentingan dan kemaslahatan umum. Misalnya, penimbunan bahan-bahan pokok, membuat kerusakan dimuka bumi (penebangan liar);

b.      Jarimah ta’zir yang menyinggung hak individu. Yang dimaksud dengan Jarimah ta’zir yang menyinggung hak individu adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan kerugian pada orang lain. Misalnya, penginaan, penipuan, dan lain sebagainya (Marsum, 1988: 21).

2.    Dilihat dari segi sifatnya, Jarimah ta’zir dibagi dalam tiga bagian:

a.       Ta’zir karena melakukan perbuatan maksiat. Yang dimaksud dengan maksiat adalah meninggalkan perbuatan yang diwajibkan dan melakukan perbuatan yang diharamkan. Misalnya, tidak membayar utang, memanipulasi hasil waqaf, sumpah palsu, riba, menolong pelaku kejahatan, memakai barang-barang yang diharamkan;

b.      Ta’zir karena melakukan perbuatan yang membahayakan kepentingan umum perbuatan-perbuatan yang masuk dalam jarimah ini bisa ditentukan, karena perbuatan ini tidak diharamkan karena zatnya, melainkan karena sifatnya. sifat yang menjadi alasan dikenakan hukuman terdapat unsur merugikan kepentingan umum;

c.       Ta’zir karena melakukan pelanggaran, dalam merumuskan ta’zir karena pelanggaran terdapat beberapa pandangan, yang pertama berpendapat bahwa orang yang meninggalkan yang mandub (sesuatu yang diperintahkan dan dituntut untuk dikerjakan) atau mengerjakan yang makruh (sesuatu yang dilarang dan dituntut untuk ditinggalkan) tak dianggap melakukan maksiat, hanya saja mereka dianggap menyimpang atau pelanggaran dapat dikenakan ta’zir. Menurut sebagian ulama yang lain, meninggalkan mandub dan mengerjakan yang makruh tidak bisa dikenakan hukuman ta’zir. Karena ta’zir hanya bisa dikenakan jika ada taklif (perintah atau larangan). Apabila hukuman diterapkan maka merupakan suatu pertanda menunjukan bahwa perbuatan itu wajib atau haram (Ahmad Wardi, 2005: 251).

3.    Dilihat dari segi dasar hukum (penetapannya) ta’zir juga dbagi kedalam tiga bagian:

a.       Jarimah ta’zir yang berasal dari jarimah-jarimah hudud atau qishash tetapi syarat-syaratnya tidak terpenuhi atau ada syubhat, seperti pencurian yang tidak mencapai nishab atau oleh keluarga sendiri;

b.      Jarimah yang jenisnya disebutkan dalam nash syara’ tetapi hukumna belum ditetapkan, seperti riba, suap, tipu dan mengurangi takaran atau timbangan;

c.       Jarimah baik yang hukum dan jenisnya belum ditetapkan oleh syara’, seperti pelanggaran disiplin pegawai pemerintah (H.A. Djazuli, 1996: 158-159).

       Dari penjelasan yang dikemukakan diatas, ta’zir adalah suatu istilah untuk hukum atas jarimah-jarimah yang hukumnya belum ditetapkan oleh syara’.   Dikalangan fuqaha, jarimah-jarimah yang hukumnya belum ditetapkan oleh syara’ dinamakan jarimah ta’zir. Jadi, istilah ta’zir bisa digunakan untuk hukuman dan bisa juga untuk jarimah (tindak pidana). Hukumannya, diserahkan sepenuhnya kepada penguasa atau hakim. Pelaksanaan jarimah ta’zir juga harus dipertimbangkan hal ini berarti dalam menentukan sanksi ta’zir itu harus mempertimbangkan pelakunya karena kondisi pelakunya itu tidak selalu sama baik motif tindakannya maupun kondisi psikisnya disamping itu untuk menjerakan pelakunya.

       Sesuai pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sanksi pidana yang diberlakukan pada tindak pidana penipuan jual beli online dalam tinjauan hukum Islam adalah ta’zir. Penerapan hukuman jarimah ta’zir yang sesuai untuk pelaku penipuan jual beli online tergantung wewenang penguasa (hakim) seperti hukuman penjara ataupun denda yang dapat membuat pelaku penipuan jual beli online ini menjadi jera dan tidak akan mengulangi perbuatan pidana tersebut.

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.         Latar Belakang munculnya jual beli online adalah karena Seiring dengan kemajuan jaman, perkembangan kebudayaan dan teknologi, jual beli yang semula menggunakan sistem barter yaitu pertukaran barang satu dengan barang yang lainnya, lalu berubah dengan alat transaksi jual beli dengan uang, maka transaksi jual beli mulai dilaksanakan dengan adanya uang dengan barang. Beberapa dekade setelah itu manusia menemukan teknologi kartu kredit sebagai pengganti uang real dan kemudian pada masa kini kebiasaan jual beli dengan melalui online. Dengan kemajuan komunikasi dan informasi, telah membawa dampak pada kemajuan dalam dunia bisnis. Jual beli jarak jauh sudah merupakan kebiasaan yang berlaku di dunia bisnis pada saai ini. Dalam hal ini penjual dan pembeli tidak memperhatikan lagi masala hijab qabul secara lisan, tetapi cukup dengan perantara seperti kertas berharga, cek, wesel, dan sebagainya.

2.         Landasan normatif jual beli online berdasarkan dari ayat 275 Surat Al-Baqoroh, ayat 29 Surat An-Nisa’ dan ayat 282 Surat Al-Baqoroh. Ada pula yang berdasarkan dari hadist Nabi SAW serta qaidah fiqh muamalah dan Fatwa DSN MUI. Untuk landasan hukum jual beli online terdapat pada Pasal 1320 KUH Perdata, Pasal 378 KUH Pidana dan Pasal 1 ayat 2 UU ITE

3.         Macam-macam modus penipuan jual beli online antara lain adalah Penipuan Berkedok Investasi, Penipuan Lewat Undian Berhadiah, Penipuan Menggunakan Modus Phising (Password Harvesting Fishing), Penjualan Produk Dengan Harga Miring (E-buy Scam), Nigerian Scam, HYIP atau High Yield Investment Program, Money handling, Modus Menggunakan Cara Verification Code Scam dan Program Pay To

4.         Dalam Islam penipuan jual beli online ditindak pidana dengan istilah ta’zir. Adapun pembagian jarimah ta’zir dari beberapa segi yaitu:

a.       Dilihat dari segi hak yang dilanggar: Jarimah ta’zir yang menyinggung hal Allah dan Jarimah ta’zir yang menyinggung hak individu

b.      Dilihat dari segi sifatnya: Ta’zir karena melakukan perbuatan maksiat, ta’zir karena melakukan perbuatan yang membahayakan kepentingan umum  dan ta’zir karena melakukan pelanggaran

c.       Dilihat dari segi dasar hukum (penetapannya): Jarimah ta’zir yang berasal dari jarimah-jarimah hudud atau qishash, jarimah yang jenisnya disebutkan dalam nash syara’ tetapi hukuman belum ditetapkan dan jarimah baik yang hukum dan jenisnya belum ditetapkan oleh syara’

                   Sesuai pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sanksi      pidana yang diberlakukan pada tindak pidana penipuan jual beli online      dalam tinjauan hukum Islam adalah ta’zir. Penerapan hukuman jarimah        ta’zir yang sesuai untuk pelaku penipuan jual beli online tergantung             wewenang penguasa (hakim) seperti hukuman penjara ataupun denda yang       dapat membuat pelaku penipuan jual beli online ini menjadi jera dan tidak    akan mengulangi perbuatan pidana tersebut.

 

      

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Astqolani, I. H. (2002). Bulughul Marom minnal adillati wal ahkam. Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiyah.

Antonio, M. S. (2007). Muhammad SAW, The Super Leader, Super Manager. Jakarta: Tazkia Multimedia & ProL.M Centre.

AP, S. (2007). Tinjauan Hukum Islam Tentang Jual Beli via Telefon dan Internet . Jakarta: Al-Mizan.

Desak Made Prilia Darmayanti, K. S. (2016). Kajian Terhadap Tindak Pidana Penipuan Melalui Jual Beli Online. Jurnal Fakultas Hukum, Universitas Udayana, 15-20.

Moh.Thalib. (1977). Tuntunan Berjual Beli Menurut Hadist Nabi. Surabaya: PT. BIna Ilmu.

Muslich, A. W. (2010). Fiqh Muamalat. Jakarta: Amzah.

Nawawi, I. (2012). Fiqh Muamalah Klasik dan Kontemporer. Bogor: Ghalia Indonesia .

Rusyd, I. (2007). Terjemahan Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid . Jakarta: A&M Design.

Saharani, S. (2011). Fiqh Muamalah. Bogor: Ghalia Indonesia.

Stabilitas. (2018, Oktober 23). "Awas skema phonzi berkedok bisnis diinternet". Retrieved from Majalah manajemen resiko: www.stabilitas.co.id

Tempo, T. (2018, Oktober 24). Penipuan online di Indonesia tertinggi. Retrieved from tekno.tempo.co: www.tekno.tempo.co

 

 

 

 



[1]               Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatu Muqtasid, Terj Abu Usamah Fakhtur, Mukhlis Mukti (Jakarta, Pustaka Azzam, 2007) hlm 249

[2]               Muhammad Syafi’I Antonio, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager (Jakarta; Tazkia Multimedia & Pro LM Centre, 2007), hlm 77

[3]               Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat (Jakarta, Sinar Grafika Offset, 2010) hlm 243

[4]               Tekno tempo, “Penipuan Online di Indonesia Tertinggi”, diakses dari tekno.tempo.co pada tanggal 24 Oktober 2018 pukul 00.21 WIB

[5]               Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatu Muqtasid, Terj Abu Usamah Fakhtur, Mukhlis Mukti (Jakarta, Pustaka Azzam, 2007) hlm 294

 

[6] Moh. Thalib, Tuntunan Berjual Beli menurut Hadis Nabi, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1977), hlm. 7.

[7] Sohari Sahrani dan Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah,(Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 66.

[8] Ismail Nawawi,Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012), hlm. 75.

[9] Sofyan AP. Kau, Tinjauan Hukum Islam Tentang Jual Beli Via Telepon dan Internet, (Al-Mizan, 2007), hal. 11.

 

[10]             Ibnu Hajar Astqolani, Bulughul Maram (Jakarta; Daar el Kutub) hlm 176

[11]             Vyctoria, Bongkar Rahasia E-Banking Security dengan Teknik Hacking dan Carding,

(Yogyakarta:CV Andi Offset, 2013), 214.

[12] IGN Mantra, “Potensi Ancaman Keamanan Email Perusahaan”, Info Komputer, (9 September

2015), 71.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar