BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Neraca merupakan
salah satu dari laporan keuangan yang paling penting. Hal ini karena neraca
berisi mengenai harta kekayaan yang dimiliki perusahaan pada suatu periode
tertentu. Selain itu, neraca juga berisi tentang utang serta modal perusahaan
pada saat yang bersamaan.
Dengan neraca
maka para kreditur atau penanam modal dan pihak-pihak lain yang berkepentingan
dapat memperlajari antara lain kemampuan dari perusahaan tersebut didalam
melunasi kewajiban-kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang serta
kecenderungan perusahaan pada masa yang akan datang.
Neraca memiliki
bagian-bagian yang seimbang. Sisi kiri memuat aktiva yang mencerminkan sumber
daya perusahaan. Sedangkan sisi kanan memuat kewajiban dan ekuitas pemilik yang
mencerminkan klaim terhdap sumber daya yang dimiliki perusahaan. Kesimbangan
antara sisi kiri dan kanan pada neraca tidak dapat diubah oleh transaksi
apapun. Seorang akuntan dalam penyusunannya pada sebuah neraca yang tidak
seimbang mengetahui bahwa telah terjadi suatu kesalahan klerikal. Oleh karena itu diperlukan suatu kematangan bagi
seorang akuntan dalam memahami neraca.
BAB
II
PEMABAHASAN
A. Pengertian
Neraca
Neraca adalah suatu daftar keuangan yang memuat ikhtisar
tentang harta, utang dan modal suatu unit usaha atau perusahaan pada suatu saat
tertentu, biasanya pada penutupan hari terakhir dari suatu bulan atau suatu
tahun. Neraca merupakan laporan keuangan utama yang memberikan informasi
tentang posisi keuangan pada suatu saat, menyajikan dua bagian pokok yaitu :
aktiva (asset) dan pasiva (liabilities and capital).[1]
Contoh :
Perusahaan Angkutan Aman
Neraca
31 Desember 1996
|
Aktiva Kas Rp. 4.000.000 Piutang dagang Rp. 3.000.000 Perlengkapan Rp. 1.000.000 Tanah Rp.
8.000.000 Gedung Rp. 40.000.000 Kendaraan Rp. 20.000.000 Jumlah aktiva
Rp. 76.000.000 |
Kewajiban Utang dagang Rp. 2.000.000 Utang hipotek
Rp.
22.000.000 Rp. 24.000.000 Modal Modal Bambang Rp. 52.000.000 Jumlah pasiva Rp. 76.000.000 |
Dalam
contoh diatas dapat dilihat bahwa neraca perusahaan Angkutan Aman, yang
menunjukkan posisi keuangan perusahaan tersebut pada tanggal 31 Desember 1996.
Judul suatu neraca terdiri atas:
(1) Nama organisasi atau perusahaan,
(2) Nama laporan (dalam hal ini neraca)
(3) Tanggal neraca.
Badan atau isi laporan terdiri dari 3
bagian yaitu aktiva, kewajiban dan modal. Dari laporan di atas pembaca laporan
secara sepintas dapat memperoleh infomasi bahwa sumber-sumber atau kekayaan
perusahaan berjumlah Rp.76.000.000 dan bahwa kekayaan ini dibelanjai atau
berasal dari dua sumber yaitu Rp. 24.000.000 dari kreditur (utang) dan Rp.
52.000.000 dari pemilik perusahaan (modal). Sisi sebelah kanan neraca biasa juga
disebut pasiva yang terdiri atas dua bagian yaitu kewajiban pada kreditur
(utang) dan kewajiban pada pemilik (modal). Hal yang paling penting untuk
diperhatikan dalam laporan ini ialah bahwa jumlah aktiva selalu sama dengan
jumlah pasiva (kewajiban dan modal). Keseimbangan ini biasanya digambarkan
sebagai suatu persamaan akutansi, yaitu suatu persamaan yang menunjukkan
bahwa jumlah semua harta atau sumber-sumber yang tercantum pada sisi kiri
adalah berasal dari kreditur dan pemilik. Sebaliknya jumlah kontribusi kreditur
dan pemilik harus sama dengan jumlah harta perusahaan.
Hubungan ini dapat dinyatakan dalam
bentuk persamaan sebagai berikut :
Aktiva = kewajiban + Modal
(Harta perusahaan) =
(kewajiban pada kreditur) + (kewajiban
pada pemilik)
Rp. 76.000.000 = Rp.
24.000.000 + Rp. 52.000.000
·
Aktiva
Aktiva adalah
sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan yang biasa dinyatakan dalam
satuan uang. Jenis sumber-sumber ekonomi atau lazim disebut harta perusahaan
bisa bermacam-macam. Ada kekayaan yang berupa barang berwujud seperti tanah,
gedung dan mesin. Ada pula yang berupa tagihan yang dalam akutansi disebut
piutang dagang, dan ada pula yang berbentuk pembayaran dimuka (uang muka) atas
jasa tertentu yang baru akan diterima di masa yang akan datang seperti premi
asuransi dibayar di muka.[2]
·
Kewajiban
Kewajiban
adalah utang yang harus dibayar oleh perusahaan dengan uang atau jasa pada
suatu saat tertentu di masa yang akan datang. Dengan kata lain, kewajiban
merupakan tagihan para kreditur kepada perusahaan.
Kewajiban dilaporkan dalam neraca menurut urutan saat pelunasannya. Pertama
dicantumkan kewajiban jangka pendek seperti utang dagang kepada kreditur, utang
wesel yang ditarik untuk pinjaman jangka pendek dan kewajiban jangka pendek
lainnya. Dibawah kewjaiban jangka pendek (atau disebut kewajiban lancar)
dicantumkan kewajiban jangka panjang. Contoh kewajiban jangka panjang misalnya
utang hipotik dan utang obligasi yang biasanya harus dibayar seluruhnya dalam
beberapa tahun di masa yang akan datang.
·
Modal
Modal
dicantumkan dalam neraca di bawah kewajiban. Modal pada hakikatnya merupaka hak
pemilik perusahaan atas kekayaan (aktiva) perusahaan. Besarnya hak pemilik sama
dengan aktiva bersih perusahaan, yaitu selisih antara aktiva dan kewajiban.
Dengan demikian jumlah modal merupakan sisa yaitu hak atas sisa aktiva setelah
dikurangi kewajiban kepada para kreditur. Dalam contoh neraca perusahaan
Angkutan Aman di atas modal pemilik berjumlah Rp.52.000.000
B. Klasifikasi Pos Neraca
Agar neraca
dapat memberikan gambaran yang jelas bagi para pemakainya, setiap pos neraca
harus disusun dan dikelompokkan menurut golongannya masing-masing.
Pada kebanyakan
perusahaan jasa dan dagang, aktiva dibagi dalam dua kelompok yaitu, aktiva
lancar dan aktiva tetap. Adapun pasiva dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
utang lancar, utang jangka panjang, dan modal.[3]
Aktiva lancar (current assets) adalah uang tunai dan
aktiva lainnya yang dalam jangka waktu normal akan menjadi tunai.[4]
Aktiva lancar perusahaan, antara lain meliputi perkiraan-perkiraan berikut :
1.
Kas
2.
Surat berharga
3.
Wesel tagih
4.
Piutang dagang
5.
Pendapatan yang masih harus diterima
6.
Bahan habis pakai
a.
Perlengkapan toko
b.
Perlengkapan kantor
7.
Persediaan barang dagangan
8.
Biaya dibayar dimuka
9.
Aktiva lancar lain-lain
Aktiva tetap berwujud adalah kekayaan
yang dimiliki perusahaan yang fisiknya konkret dan digunakan dalam operasi
perusahaan secara permanen (lebih dari satu periode akutansi tahun). Aktiva ini
mencakup, antara lain :
1.
Kendaraan
2.
Peralatan toko
3.
Peralatan kantor
4.
Peralatan pabrik
5.
Bangunan gedung
6.
Tanah
7.
Aktiva tetap lain-lain
Utang lancar adalah kewajiban keuangan
perusahaan yang harus dibayar dalam waktu kurang dari satu tahun. Utang lancar
ini antara lain terdiri dari :
1.
Utang dagang
2.
Utang wesel
3.
Utang pajak
4.
Biaya yang masih harus dibayar
a.
Rekening listrik dan air
b.
Telepom
c.
Honorarium
d.
Lain-lain
5.
Utang jangka panjang yang telah jatuh
tempo
6.
Utang lain-lain
Utang jangka panjang[5]
adalah kewajiban keuangan perusahaan yang jangka waktu permbayarannya lebih
dari satu tahun. Yang termasuk utang jangka panjang antara lain :
1.
Wesel bayar jangka panjang
2.
Utang hipotek
3.
Utang obligasi
4.
Utang jangka panjang lain-lain
Modal adalah merupakan hak atau bagian
yang dimiliki oleh pemilik perusahaan. Di dalam perusahaan perseorangan yang
termasuk modal hanyalah modal pribadi. Dalam perseroan terbatas (PT) yang
termasuk dalam modal, antara lain :
1.
Modal saham
2.
Laba yang di tahan
3.
Cadangan
C. Bentuk Neraca
Dalam
penyusunan neraca, perusahaan dapat menggunakan beberapa bentuk sesuai dengan
tujuan dan kebutuhannya. Disamping itu, bentuk neraca yang dipilih sesuai
dengan aturan dan kelaziman yang berlaku. Artinya penyusunan neraca didasarkan
kepada bentuk yang telah distandarisasi, terutama untuk tujuan pihak luar
perusahaan. Dalam praktiknya terdapat beberapa bentuk neraca. Perusahaan dapat
memilih salah satu dari bentuk, yaitu :
1.
Bentuk
horizontal / skontro (account from)
2.
Bentuk
vertikal / laporan (report from)
3.
Bentuk lainnya yang disesuaikan dengan keinginan
perusahaan.
Bentuk horizontal disebut bentuk perkiraan atau bentuk (T) karena
bentuknya sama dengan perkiraan (T) yang mempunyai dua sisi, yaitu sebelah kiri
disebut debet dan sebelah kanan disebut kredit. Dalam neraca bentuk horizontal,
pos aktiva ditempatkan di sebelah kiri dan pos utang ditempatkan sebelah kanan.
Bentuk vertikal atau bentuk laporan. Dalam bentuk laporan, isi neraca disusun
mulai dari atas terus kebawah, yaitu mulai dari aktiva lancar seperti kas,
bank, efek, ialah komponen aktiva tetap, komponen aktiva lainnya, komponen
kewajiban lancar, komponen utang jangka panjang, dan terakhir adalah komponen
modal (ekuitas).
Contoh 1 :
Bentuk
Horizontal
TOKO “PASUNDAN”
NERACA
Untuk bulan
yang berakhir per 31 Maret 2000
(dalam ribuan)
|
Aktiva Aktiva lancar Kas Rp.
1.288.500 Piutang dagang Rp.
1.032.000 Suplai toko Rp. 82.500 Persediaan barang Rp.
3.420.000 Persekot pegawai Rp. 42.000 Jumlah aktiva lancar Rp. 5.865.000 Aktiva tetap Peralatan toko Rp.
6.000.000 (-) akumulasi depresi Rp.
1.397.500 Rp.
4.602.500 Bangunan toko (-) akumulasi depresi Rp.
8.000.000 Rp. 485.000 Rp.
7.515.000 Tanah Rp.
3.000.000 Jumlah aktiva tetap Rp. 15.117.500
|
Pasiva Utang lancar Utang dagang Rp. 1.113.000 Utang pajak Rp. 225.000 Utang bunga Rp. 44.000 Jumlah utang lancar Rp.
1.382.400 Utang jangka panjang Utang hipotek Rp.
1.125.000 Jumlah utang Rp. 2.507.400 Modal
|
Contoh 2 :
Bentuk Vertikal
TOKO “PASUNDAN”
NERACA
Untuk bulan
yang berakhir per 31 Maret 2000
(dalam ribuan)
|
Aktiva Aktiva lancar Kas Piutang dagang Suplai toko Persediaan barang Persekot pegawai Jumlah aktiva lancar Aktiva tetap Peralatan toko (-) akumulasi depresi Bangunan toko (-) akumulasi depresi Tanah Jumlah aktiva tetap Jumlah
aktiva Pasiva Utang lancar Utang dagang Utang pajak Utang bunga Jumlah utang lancar Utang jangka panjang Utang hipotek Jumlah utang jangka panjang Jumlah utang Modal Modal Y. Andriani Jumlah
pasiva |
Rp. 6.000.000 Rp. 1.397.500 Rp.
8.000.000 Rp. 485.000 Rp.
1.113.000 Rp. 225.000 Rp. 44.400 Rp.
1.125.000 |
Rp. 1.288.500 Rp. 1.032.000 Rp. 82.500 Rp. 3.420.000 Rp. 42.000 Rp. 4.602.500 Rp. 7.515.000 Rp. 3.000.000 Rp. 1.382.400 Rp. 1.125.000 |
Rp. 5.865.000 Rp. 15.117.500
Rp. 2.507.400 Rp. 18.475.100 Rp. 20.982.500
|
D.
Laporan Laba/Rugi
Tujuan utama suatu perusahaan adalah mendapatkan laba. Laporan laba rugi
disusun dengan maksud untuk menggambarkan hasil operasi perusahaan dalam suatu
periode waktu tertentu. Dengan kata lain, laporan laba rugi menggambarkan
keberhasilan atau kegagalan operasi perusahaan dalam upaya mencapai tujuannya.
Hasil operasi perusahaan diukur dengan membandingkan antara pendapatan
perusahaan dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.[6]
Apabila pendapatan lebih besar dari pada biaya, maka dikatakan bahwa
perusahaan memperoleh laba, dan bila terjadi sebaliknya (pendapatan lebih kecil
dari pada biaya) maka perusahaan menderita rugi. Berikut ini contoh laporan
laba rugi Perusahaan Angkutan Aman untuk tahun 1996.
Perusahaan
Angkutan Aman
Laporan Laba
Rugi
Untuk tahun
yang berakhir pada 31 Desember 1996
|
Pendapatan jasa angkutan Biaya-biaya operasi : ·
Gaji
pegawai ·
Bensin
& oli ·
Reparasi
& pemeliharaan ·
Penyusutan
kendaraan ·
Asuransi Jumlah biaya operasi Laba bersih |
Rp. 1.200.000 Rp. 800.000 Rp. 500.000 Rp. 2.000.000 Rp. 100.000 |
Rp. 10.000.000 Rp. 4.600.000 Rp. 5.400.000 |
Laporan Laba Rugi diberi judul, yang terdiri atas nama perusahaan, nama
laporan (dalam hal ini “Laporan Laba Rugi”), dan periode laporan. Isi laporan
laba rugi terdiri atas tiga komponen pokok, yakni pendapatan, biaya dan laba
atau rugi.
Pendapatan adalah aliran penerimaan kas atau harta lain yang diterima
konsumen sebagai hasil penjualan barang atau pemberian jasa.
Biaya adalah harga produk barang yang dijual dan jasa-jasa yang
dikonsumsi untuk mengahasilkan pendapatan.
Laba atau rugi adalah selisih lebih atau kurang antara pendapatan dengan
biaya.
E.
Laporan Perubahan Modal
Hasil operasi perusahaan yang berupa laba atau rugi akan berpengaruh
terhadap modal pemilik. Apabila perusahaan memperoleh laba, maka laba tersebut
akan menambah modal pemilik. Sebaliknya jika perusahaan menderita rugo, maka
modal pemilik menjadi berkurang. Modal pemilik dapat juga berubah karena adanya
tambahan investasi yang dilakukan oleh si pemilik, atau karena pemilik
mengambil harta perusahaan untuk keperluan pribadi.
Dengan demikian modal pemilik akan bertambah (1) karena adanya tambahan
investasi oleh pemilik (2) karena perusahaan mendapat laba. Di lain pihak modal
pemilik akan berkurang (1) karena pemilik melakukan pengambilan harta
perusahaan untuk keperluan pribadi (disebut pengambilan prive) dan (2) karena
perusahaan menderita rugi. Informasi tentang perubahaan modal pemilik biasanya
dituangkan dalam sebuah laporan yang disebut laporan perubahan modal. Dalam
laporan ini digambarkan alasan yang menjadi penyebab terjadinya perubahan
jumlah modal pemilik. Berikut ini contoh laporan perubahan modal Perusahaan
Angkutan Aman untuk tahun 1996.
Perusahaan Angkutan Aman
Laporan Perubahan Modal
Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 1996
|
Modal, 1 Januari 1996 Tambah : Laba tahun 1996 Kurang : pengambilan prive Modal : 31 Desember 1996 |
Rp. 46.600.000 Rp. 5.400.000 Rp. 54.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 52.000.000 |
Laporan perubahan modal sering disebut sebagai “jembatan” antara laporan
laba rugi dengan neraca. Seperti telah ditunjukkan di atas, data laba atau rugi
yang tercantum dalam laporan laba rugi pada akhirnya akan mempengaruhi modal
yang tercantum dalam neraca. Pengaruh laba atau rugi terhadap modal
diperhitungkan dalam laporan perubahan modal.
F. Kegunaan
(analisis) Neraca
Neraca melaporkan aktiva, kewajiban dan ekuitas pemegang
saham pada suatu tanggal tertentu. Kalau laporan laba rugi menggambarkan
kinerja perusahaan, maka neraca menggambarkan posisi keuangan. Dengan
menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban dan ekuitas pemegang saham,
neraca dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengevaluasi tingkat likuiditas,
struktur modal dan efisiensi perusahaan, serta menghitung tingkat pengembalian
aktiva atas laba bersih.[7]
Neraca juga dapat digunakans sebagai dasar untuk
mengevaluasi seberapa efisiensi aktiva perusahaan telah digunakan dalam
menciptakan pendapatan atau penjualan. Rasio keuangan yang mengukur efisiensi
perusahaan secara keseluruhan ini dinamakan asset turnover ratio. Rasio ini
dihitung dengan cara membagi pendapatan atau penjualan dengan total aktiva.
Jika perusahaan memiliki asset turnover ratio sebesar 2,0 maka berarti bahwa
setiap satu rupiah dari aktiva mampu menghasilkan atau menciptakan Rp. 2 dalam
pendapatan atau penjualan. Semakin tinggi asset turnover ratio, maka semakin
efisien perusahaan menggunakan aktivanya dalam menciptakan pendapatan atau
penjualan.
G. Keterbatasan
Neraca
Neraca harus dapat secara memadai dan akurat mencerminkan
aktiva dan kewajiban perusahaan. Penggunaan laporan keuangan seharusny dapat
memanfaatkan neraca untuk memperoleh gambaran yang cukup mengenai suatu
perusahaan. Namun pada kenyataannya banyak sekali keterbatasan yang terkandung
dalam neraca, diantaranya adalah kecenderungan untuk mengabaikan efek inflasi,
tidak mencerimkan nilai perusahaan saat ini (current value of entity), tidak
mengungkapkan seluruh aktiva dan kewajiban perusahaan, serta kurangnya memiliki
daya banding.
Keterangan lainnya dari neraca adalah terkait dengan
kebutuhan daya banding, yaitu bahwa seluruh perusahaan tidak mengklarifikasikan
dan melaporkan seluruh item yang sama dengan cara yang sama. Sebagai contoh,
nama dan klarifikasi akun yang berbeda; beberapa perusahaan memberikan lebih
terperinci dari pada lainnya; dan beberapa perusahan dengan transaksi yang sama
melaporkan secara berbeda. Perbedaan ini telah membuat perbandingan menjadi
sulit dan mengurangi nilai potensi dari analisis neraca.
H. Contoh
Soal
dan Penyelesaiannya
Tuan Joko
mendirikan sebuah perusahaan perseorangan pada tanggal 1 Oktober tahun ini.
Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Oktober adalah sebagai berikut :
1.
Tuan
joko mebuka rekening di bank untuk perusahaanny, dan menyetrokan uang sebesar
Rp. 5.000.000 ke dalam rekening tersebut sebagai setoran modalnya.
2.
Dibayar
biaya sewa gedung dan peralatan bulan ini Rp. 3.000.000
3.
Dibeli
perlengkapan secara kredit Rp. 925.000
4.
Dibayar
utang kepada seorang kreditur Rp. 625.000
5.
Diterima
kas dari penjualan jasa secara tunai Rp. 3.750.000
6.
Dibayar
biaya kendaraan bulan ini Rp. 780.000 dan macam-macam biaya Rp. 250.000
7.
Dibayar
biaya gaji pegawai Rp. 1.500.000
8.
Ditentukan
bahwa harga perlengkapan yang tersisa adalah Rp. 275.000 ini berarti bahwa
perlengkapan yang telah dipakai Rp. 650.000
9.
Dikirimkan
faktur kepada pemakai jasa secara kredit Rp. 2.350.000
10. Tuan joko mengambil kas untuk keperluan pribadi R.
1.000.000
Diminta :
Susunlah laporan
laba rugi, laporan perubahan modal, dan neraca per 31 juli 1996 untuk kantor
pengacara milik Marlina.
Jawab:
Tuan Joko
Laporan Laba Rugi
Oktober 2015
|
Biaya-biaya : ·
Beban sewa ·
Beban gaji ·
Beban kendaraan ·
Beban perlengkapan ·
Beban lain-lain Jumlah biaya-biaya Rugi Pendapatan jasa Pendapatan tunai Pendapatan kredit Jumlah pendapatan |
Rp. 3.000.000 Rp. 1.500.000 Rp. 780.000 Rp. 650.000 Rp. 250.000 + Rp. 3.750.000 Rp. 2.350.000 |
Rp. 6.180.000 – Rp. 80.000 Rp. Rp. 6.100.000 |
Tuan Joko
Laporan Perubahan Modal
Oktober 2015
|
Modal awal Rugi Priver Tuan Joko Modal akhir |
Rp. 80.000 Rp. 1.000.000 |
Rp. 5.000.000 Rp. 920.000 Rp. 3.920.000 |
Tuan Joko
Neraca
Oktober 2015
|
Aktiva Kas Rp.
1.595.000 Piutang usaha Rp.
2.350.000 Perlengkapan Rp. 275.000 + Jumlah aktiva Rp.
4.220.000 |
Kewajiban Utang usaha Rp. 300.000 Modal Modal Tuan Joko Rp.
3.920.000 + Jumlah kewajiban Rp.
4.220.000 modal |
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Neraca adalah
suatu daftar keuangan yang memuat ikhtisar tentang harta, utang dan modal suatu
unit usaha atau perusahaan pada suatu saat tertentu, biasanya pada penutupan
hari terakhir dari suatu bulan atau suatu tahun. Neraca merupakan laporan
keuangan utama yang memberikan informasi tentang posisi keuangan pada suatu
saat, menyajikan dua bagian pokok yaitu : aktiva (asset) dan pasiva (liabilities
and capital).
Aktiva
adalah harta atau kekayaan yang dimiliki perusahaan, baik pada saat tertentu
maupun periode tertentu. Aktiva lancar merupakan harta atau kekayaan yang
segera dapat diuangkan (ditunaikan) pada saat dibutuhkan dan paling lama satu
tahun.nAktiva tetap merupakan harta atau kekayaan perusahaan yang digunakan
dalam jangka panjang lebih dari satu tahun.
Hutang lancar merupakan kewajiban atau utang
perusahaan kepada pihak lain yang harus sgera dibayar.
Utang jangka panjang merupakan kewajiban perusahaan
pada pihak lain yang memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun,
Kas merupakan uang tunai yang dimiliki perusahaan
dan dapat segera digunakan setiap saat.
Hipotek merupakan utang perusaahn yang dijain dengan
aktiva tetap tertentu.
Modal (ekuitas) merupakan hak yang dimiliki
perusahaan.
[1] Sadeli, Dasar-dasar
Akutansi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002), hlm. 19
[2] Ibid., hlm. 21-23
[3] Hery, Teori
Akutansi, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 194
[4]
Kasmir, Analsisi Laporan Keuangan, (Jakarta:
Rajawali, 2014), hlm.32
[5]
Ibid,.hlm.40
[6] Ibid, hlm.23-25
[7] Ibid., hery, Teori
Akutansi, hlm.190-192
Tidak ada komentar:
Posting Komentar