Selasa, 04 Januari 2022

Makalah Tentang Neraca

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang

Neraca merupakan salah satu dari laporan keuangan yang paling penting. Hal ini karena neraca berisi mengenai harta kekayaan yang dimiliki perusahaan pada suatu periode tertentu. Selain itu, neraca juga berisi tentang utang serta modal perusahaan pada saat yang bersamaan.

Dengan neraca maka para kreditur atau penanam modal dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dapat memperlajari antara lain kemampuan dari perusahaan tersebut didalam melunasi kewajiban-kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang serta kecenderungan perusahaan pada masa yang akan datang.

Neraca memiliki bagian-bagian yang seimbang. Sisi kiri memuat aktiva yang mencerminkan sumber daya perusahaan. Sedangkan sisi kanan memuat kewajiban dan ekuitas pemilik yang mencerminkan klaim terhdap sumber daya yang dimiliki perusahaan. Kesimbangan antara sisi kiri dan kanan pada neraca tidak dapat diubah oleh transaksi apapun. Seorang akuntan dalam penyusunannya pada sebuah neraca yang tidak seimbang mengetahui bahwa telah terjadi suatu kesalahan klerikal. Oleh  karena itu diperlukan suatu kematangan bagi seorang akuntan dalam memahami neraca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMABAHASAN

 

A.    Pengertian Neraca

Neraca adalah suatu daftar keuangan yang memuat ikhtisar tentang harta, utang dan modal suatu unit usaha atau perusahaan pada suatu saat tertentu, biasanya pada penutupan hari terakhir dari suatu bulan atau suatu tahun. Neraca merupakan laporan keuangan utama yang memberikan informasi tentang posisi keuangan pada suatu saat, menyajikan dua bagian pokok yaitu : aktiva (asset) dan pasiva (liabilities and capital).[1]

 

Contoh :

Perusahaan Angkutan Aman

Neraca

31 Desember 1996

Aktiva

Kas                          Rp.   4.000.000

Piutang dagang           Rp.   3.000.000

Perlengkapan               Rp.   1.000.000

Tanah                          Rp.   8.000.000

Gedung                       Rp. 40.000.000

Kendaraan                   Rp. 20.000.000

 

 

 

Jumlah aktiva              Rp. 76.000.000

Kewajiban

Utang dagang             Rp.   2.000.000

Utang hipotek                         Rp. 22.000.000

                        Rp. 24.000.000

 

 

 

Modal                                    

Modal Bambang         Rp. 52.000.000

 

Jumlah pasiva             Rp. 76.000.000

                       

            Dalam contoh diatas dapat dilihat bahwa neraca perusahaan Angkutan Aman, yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan tersebut pada tanggal 31 Desember 1996.

Judul suatu neraca terdiri atas:

(1) Nama organisasi atau perusahaan,

(2) Nama laporan (dalam hal ini neraca)

(3) Tanggal neraca.

Badan atau isi laporan terdiri dari 3 bagian yaitu aktiva, kewajiban dan modal. Dari laporan di atas pembaca laporan secara sepintas dapat memperoleh infomasi bahwa sumber-sumber atau kekayaan perusahaan berjumlah Rp.76.000.000 dan bahwa kekayaan ini dibelanjai atau berasal dari dua sumber yaitu Rp. 24.000.000 dari kreditur (utang) dan Rp. 52.000.000 dari pemilik perusahaan (modal). Sisi sebelah kanan neraca biasa juga disebut pasiva yang terdiri atas dua bagian yaitu kewajiban pada kreditur (utang) dan kewajiban pada pemilik (modal). Hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam laporan ini ialah bahwa jumlah aktiva selalu sama dengan jumlah pasiva (kewajiban dan modal). Keseimbangan ini biasanya digambarkan sebagai suatu persamaan akutansi, yaitu suatu persamaan yang menunjukkan bahwa jumlah semua harta atau sumber-sumber yang tercantum pada sisi kiri adalah berasal dari kreditur dan pemilik. Sebaliknya jumlah kontribusi kreditur dan pemilik harus sama dengan jumlah harta perusahaan.

 

Hubungan ini dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :

Aktiva                         =          kewajiban                 +          Modal

(Harta perusahaan)      = (kewajiban pada kreditur)    + (kewajiban pada pemilik)

Rp. 76.000.000           =          Rp. 24.000.000           + Rp. 52.000.000

 

·      Aktiva

Aktiva adalah sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan yang biasa dinyatakan dalam satuan uang. Jenis sumber-sumber ekonomi atau lazim disebut harta perusahaan bisa bermacam-macam. Ada kekayaan yang berupa barang berwujud seperti tanah, gedung dan mesin. Ada pula yang berupa tagihan yang dalam akutansi disebut piutang dagang, dan ada pula yang berbentuk pembayaran dimuka (uang muka) atas jasa tertentu yang baru akan diterima di masa yang akan datang seperti premi asuransi dibayar di muka.[2]

 

·      Kewajiban

Kewajiban adalah utang yang harus dibayar oleh perusahaan dengan uang atau jasa pada suatu saat tertentu di masa yang akan datang. Dengan kata lain, kewajiban merupakan tagihan para kreditur  kepada perusahaan. Kewajiban dilaporkan dalam neraca menurut urutan saat pelunasannya. Pertama dicantumkan kewajiban jangka pendek seperti utang dagang kepada kreditur, utang wesel yang ditarik untuk pinjaman jangka pendek dan kewajiban jangka pendek lainnya. Dibawah kewjaiban jangka pendek (atau disebut kewajiban lancar) dicantumkan kewajiban jangka panjang. Contoh kewajiban jangka panjang misalnya utang hipotik dan utang obligasi yang biasanya harus dibayar seluruhnya dalam beberapa tahun di masa yang akan datang.

·      Modal

Modal dicantumkan dalam neraca di bawah kewajiban. Modal pada hakikatnya merupaka hak pemilik perusahaan atas kekayaan (aktiva) perusahaan. Besarnya hak pemilik sama dengan aktiva bersih perusahaan, yaitu selisih antara aktiva dan kewajiban. Dengan demikian jumlah modal merupakan sisa yaitu hak atas sisa aktiva setelah dikurangi kewajiban kepada para kreditur. Dalam contoh neraca perusahaan Angkutan Aman di atas modal pemilik berjumlah Rp.52.000.000

 

B.     Klasifikasi Pos Neraca

Agar neraca dapat memberikan gambaran yang jelas bagi para pemakainya, setiap pos neraca harus disusun dan dikelompokkan menurut golongannya masing-masing.

Pada kebanyakan perusahaan jasa dan dagang, aktiva dibagi dalam dua kelompok yaitu, aktiva lancar dan aktiva tetap. Adapun pasiva dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu utang lancar, utang jangka panjang, dan modal.[3]

Aktiva lancar (current assets) adalah uang tunai dan aktiva lainnya yang dalam jangka waktu normal akan menjadi tunai.[4] Aktiva lancar perusahaan, antara lain meliputi perkiraan-perkiraan berikut :

1.      Kas

2.      Surat berharga

3.      Wesel tagih

4.      Piutang dagang

5.      Pendapatan yang masih harus diterima

6.      Bahan habis pakai

a.       Perlengkapan toko

b.      Perlengkapan kantor

7.      Persediaan barang dagangan

8.      Biaya dibayar dimuka

9.      Aktiva lancar lain-lain

 

Aktiva tetap berwujud adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang fisiknya konkret dan digunakan dalam operasi perusahaan secara permanen (lebih dari satu periode akutansi tahun). Aktiva ini mencakup, antara lain :

1.      Kendaraan

2.      Peralatan toko

3.      Peralatan kantor

4.      Peralatan pabrik

5.      Bangunan gedung

6.      Tanah

7.      Aktiva tetap lain-lain

 

Utang lancar adalah kewajiban keuangan perusahaan yang harus dibayar dalam waktu kurang dari satu tahun. Utang lancar ini antara lain terdiri dari :

1.      Utang dagang

2.      Utang wesel

3.      Utang pajak

4.      Biaya yang masih harus dibayar

a.       Rekening listrik dan air

b.      Telepom

c.       Honorarium

d.      Lain-lain

5.      Utang jangka panjang yang telah jatuh tempo

6.      Utang lain-lain

 

Utang jangka panjang[5] adalah kewajiban keuangan perusahaan yang jangka waktu permbayarannya lebih dari satu tahun. Yang termasuk utang jangka panjang antara lain :

1.      Wesel bayar jangka panjang

2.      Utang hipotek

3.      Utang obligasi

4.      Utang jangka panjang lain-lain

 

Modal adalah merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan. Di dalam perusahaan perseorangan yang termasuk modal hanyalah modal pribadi. Dalam perseroan terbatas (PT) yang termasuk dalam modal, antara lain :

1.      Modal saham

2.      Laba yang di tahan

3.      Cadangan

 

 

C.    Bentuk Neraca

Dalam penyusunan neraca, perusahaan dapat menggunakan beberapa bentuk sesuai dengan tujuan dan kebutuhannya. Disamping itu, bentuk neraca yang dipilih sesuai dengan aturan dan kelaziman yang berlaku. Artinya penyusunan neraca didasarkan kepada bentuk yang telah distandarisasi, terutama untuk tujuan pihak luar perusahaan. Dalam praktiknya terdapat beberapa bentuk neraca. Perusahaan dapat memilih salah satu dari bentuk, yaitu :

1.      Bentuk horizontal / skontro (account from)

2.      Bentuk vertikal / laporan (report from)

3.      Bentuk lainnya yang disesuaikan dengan keinginan perusahaan.

 

Bentuk horizontal disebut bentuk perkiraan atau bentuk (T) karena bentuknya sama dengan perkiraan (T) yang mempunyai dua sisi, yaitu sebelah kiri disebut debet dan sebelah kanan disebut kredit. Dalam neraca bentuk horizontal, pos aktiva ditempatkan di sebelah kiri dan pos utang ditempatkan sebelah kanan.

Bentuk vertikal atau bentuk laporan. Dalam bentuk laporan, isi neraca disusun mulai dari atas terus kebawah, yaitu mulai dari aktiva lancar seperti kas, bank, efek, ialah komponen aktiva tetap, komponen aktiva lainnya, komponen kewajiban lancar, komponen utang jangka panjang, dan terakhir adalah komponen modal (ekuitas).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh 1 :

Bentuk Horizontal

TOKO “PASUNDAN”

NERACA

Untuk bulan yang berakhir per 31 Maret 2000

(dalam ribuan)

Aktiva

Aktiva lancar

Kas                              Rp. 1.288.500

Piutang dagang           Rp. 1.032.000

Suplai toko                  Rp.      82.500

Persediaan barang       Rp. 3.420.000

Persekot pegawai        Rp.      42.000

Jumlah aktiva lancar   Rp. 5.865.000

 

Aktiva tetap   

Peralatan toko             Rp. 6.000.000

(-) akumulasi depresi   Rp. 1.397.500

                                    Rp. 4.602.500

Bangunan toko

(-) akumulasi depresi   Rp. 8.000.000

                                    Rp.    485.000

                                    Rp. 7.515.000

Tanah                          Rp. 3.000.000

Jumlah aktiva tetap     Rp. 15.117.500

 

Jumlah aktiva            Rp. 20.982.500

 

Pasiva

Utang lancar

Utang dagang             Rp.  1.113.000

Utang pajak                 Rp.     225.000

Utang bunga               Rp.       44.000

Jumlah utang lancar    Rp. 1.382.400

 

Utang jangka panjang

Utang hipotek             Rp. 1.125.000

Jumlah utang              Rp. 2.507.400

 

Modal

Modal Y. Andirani       Rp. 18.475.100

 

 

 

 

 

 

 

Jumlah pasiva            Rp. 20.982.500

 

 

 

 

 

Contoh 2 :

Bentuk Vertikal

TOKO “PASUNDAN”

NERACA

Untuk bulan yang berakhir per 31 Maret 2000

(dalam ribuan)

Aktiva

Aktiva lancar

Kas

Piutang dagang

Suplai toko

Persediaan barang

Persekot pegawai

 

Jumlah aktiva lancar

Aktiva tetap

Peralatan toko

(-) akumulasi depresi

 

Bangunan toko

(-) akumulasi depresi

 

Tanah

Jumlah aktiva tetap

Jumlah aktiva

 

Pasiva

Utang lancar

Utang dagang

Utang pajak

Utang bunga

 

Jumlah utang lancar

 

Utang jangka panjang

Utang hipotek

Jumlah utang jangka panjang

Jumlah utang

 

Modal

Modal Y. Andriani

Jumlah pasiva

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 6.000.000

Rp. 1.397.500

 

 

Rp. 8.000.000

Rp.    485.000

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 1.113.000

Rp.    225.000

Rp.      44.400

 

 

 

 

Rp. 1.125.000

 

 

Rp. 1.288.500

Rp. 1.032.000

Rp.      82.500

Rp. 3.420.000

Rp.      42.000

 

 

 

Rp. 4.602.500

 

 

 

 

Rp. 7.515.000

Rp. 3.000.000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 1.382.400

 

 

 

Rp. 1.125.000

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 5.865.000

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 15.117.500

Rp. 20.982.500

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 2.507.400

 

 

 

Rp. 18.475.100

Rp. 20.982.500

 

D.    Laporan Laba/Rugi

Tujuan utama suatu perusahaan adalah mendapatkan laba. Laporan laba rugi disusun dengan maksud untuk menggambarkan hasil operasi perusahaan dalam suatu periode waktu tertentu. Dengan kata lain, laporan laba rugi menggambarkan keberhasilan atau kegagalan operasi perusahaan dalam upaya mencapai tujuannya. Hasil operasi perusahaan diukur dengan membandingkan antara pendapatan perusahaan dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.[6]

Apabila pendapatan lebih besar dari pada biaya, maka dikatakan bahwa perusahaan memperoleh laba, dan bila terjadi sebaliknya (pendapatan lebih kecil dari pada biaya) maka perusahaan menderita rugi. Berikut ini contoh laporan laba rugi Perusahaan Angkutan Aman untuk tahun 1996.

 

Perusahaan Angkutan Aman

Laporan Laba Rugi

Untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 1996

Pendapatan jasa angkutan

Biaya-biaya operasi :

·         Gaji pegawai

·         Bensin & oli

·         Reparasi & pemeliharaan

·         Penyusutan kendaraan

·         Asuransi

Jumlah biaya operasi

Laba bersih

 

 

 

Rp. 1.200.000

Rp.    800.000

Rp.    500.000

Rp. 2.000.000

Rp.    100.000

Rp. 10.000.000

 

 

 

 

 

 

Rp. 4.600.000

Rp. 5.400.000

Laporan Laba Rugi diberi judul, yang terdiri atas nama perusahaan, nama laporan (dalam hal ini “Laporan Laba Rugi”), dan periode laporan. Isi laporan laba rugi terdiri atas tiga komponen pokok, yakni pendapatan, biaya dan laba atau rugi.

Pendapatan adalah aliran penerimaan kas atau harta lain yang diterima konsumen sebagai hasil penjualan barang atau pemberian jasa.

Biaya adalah harga produk barang yang dijual dan jasa-jasa yang dikonsumsi untuk mengahasilkan pendapatan.

Laba atau rugi adalah selisih lebih atau kurang antara pendapatan dengan biaya.

 

E.     Laporan Perubahan Modal

Hasil operasi perusahaan yang berupa laba atau rugi akan berpengaruh terhadap modal pemilik. Apabila perusahaan memperoleh laba, maka laba tersebut akan menambah modal pemilik. Sebaliknya jika perusahaan menderita rugo, maka modal pemilik menjadi berkurang. Modal pemilik dapat juga berubah karena adanya tambahan investasi yang dilakukan oleh si pemilik, atau karena pemilik mengambil harta perusahaan untuk keperluan pribadi.

Dengan demikian modal pemilik akan bertambah (1) karena adanya tambahan investasi oleh pemilik (2) karena perusahaan mendapat laba. Di lain pihak modal pemilik akan berkurang (1) karena pemilik melakukan pengambilan harta perusahaan untuk keperluan pribadi (disebut pengambilan prive) dan (2) karena perusahaan menderita rugi. Informasi tentang perubahaan modal pemilik biasanya dituangkan dalam sebuah laporan yang disebut laporan perubahan modal. Dalam laporan ini digambarkan alasan yang menjadi penyebab terjadinya perubahan jumlah modal pemilik. Berikut ini contoh laporan perubahan modal Perusahaan Angkutan Aman untuk tahun 1996.

 

Perusahaan Angkutan Aman

Laporan Perubahan Modal

Untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 1996

Modal, 1 Januari 1996

Tambah : Laba tahun 1996

 

Kurang : pengambilan prive

Modal : 31 Desember 1996

Rp. 46.600.000

Rp.   5.400.000

Rp. 54.000.000

Rp.   2.000.000

Rp. 52.000.000

            Laporan perubahan modal sering disebut sebagai “jembatan” antara laporan laba rugi dengan neraca. Seperti telah ditunjukkan di atas, data laba atau rugi yang tercantum dalam laporan laba rugi pada akhirnya akan mempengaruhi modal yang tercantum dalam neraca. Pengaruh laba atau rugi terhadap modal diperhitungkan dalam laporan perubahan modal.

 

F.     Kegunaan (analisis) Neraca

Neraca melaporkan aktiva, kewajiban dan ekuitas pemegang saham pada suatu tanggal tertentu. Kalau laporan laba rugi menggambarkan kinerja perusahaan, maka neraca menggambarkan posisi keuangan. Dengan menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban dan ekuitas pemegang saham, neraca dapat dijadikan sebagai dasar untuk mengevaluasi tingkat likuiditas, struktur modal dan efisiensi perusahaan, serta menghitung tingkat pengembalian aktiva atas laba bersih.[7]

Neraca juga dapat digunakans sebagai dasar untuk mengevaluasi seberapa efisiensi aktiva perusahaan telah digunakan dalam menciptakan pendapatan atau penjualan. Rasio keuangan yang mengukur efisiensi perusahaan secara keseluruhan ini dinamakan asset turnover ratio. Rasio ini dihitung dengan cara membagi pendapatan atau penjualan dengan total aktiva. Jika perusahaan memiliki asset turnover ratio sebesar 2,0 maka berarti bahwa setiap satu rupiah dari aktiva mampu menghasilkan atau menciptakan Rp. 2 dalam pendapatan atau penjualan. Semakin tinggi asset turnover ratio, maka semakin efisien perusahaan menggunakan aktivanya dalam menciptakan pendapatan atau penjualan.

 

G.    Keterbatasan Neraca

Neraca harus dapat secara memadai dan akurat mencerminkan aktiva dan kewajiban perusahaan. Penggunaan laporan keuangan seharusny dapat memanfaatkan neraca untuk memperoleh gambaran yang cukup mengenai suatu perusahaan. Namun pada kenyataannya banyak sekali keterbatasan yang terkandung dalam neraca, diantaranya adalah kecenderungan untuk mengabaikan efek inflasi, tidak mencerimkan nilai perusahaan saat ini (current value of entity), tidak mengungkapkan seluruh aktiva dan kewajiban perusahaan, serta kurangnya memiliki daya banding.

Keterangan lainnya dari neraca adalah terkait dengan kebutuhan daya banding, yaitu bahwa seluruh perusahaan tidak mengklarifikasikan dan melaporkan seluruh item yang sama dengan cara yang sama. Sebagai contoh, nama dan klarifikasi akun yang berbeda; beberapa perusahaan memberikan lebih terperinci dari pada lainnya; dan beberapa perusahan dengan transaksi yang sama melaporkan secara berbeda. Perbedaan ini telah membuat perbandingan menjadi sulit dan mengurangi nilai potensi dari analisis neraca.

 

H.    Contoh Soal dan Penyelesaiannya

Tuan Joko mendirikan sebuah perusahaan perseorangan pada tanggal 1 Oktober tahun ini. Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Oktober adalah sebagai berikut :

1.      Tuan joko mebuka rekening di bank untuk perusahaanny, dan menyetrokan uang sebesar Rp. 5.000.000 ke dalam rekening tersebut sebagai setoran modalnya.

2.      Dibayar biaya sewa gedung dan peralatan bulan ini Rp. 3.000.000

3.      Dibeli perlengkapan secara kredit Rp. 925.000

4.      Dibayar utang kepada seorang kreditur Rp. 625.000

5.      Diterima kas dari penjualan jasa secara tunai Rp. 3.750.000

6.      Dibayar biaya kendaraan bulan ini Rp. 780.000 dan macam-macam biaya Rp. 250.000

7.      Dibayar biaya gaji pegawai Rp. 1.500.000

8.      Ditentukan bahwa harga perlengkapan yang tersisa adalah Rp. 275.000 ini berarti bahwa perlengkapan yang telah dipakai Rp. 650.000

9.      Dikirimkan faktur kepada pemakai jasa secara kredit Rp. 2.350.000

10.  Tuan joko mengambil kas untuk keperluan pribadi R. 1.000.000

Diminta :

Susunlah laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan neraca per 31 juli 1996 untuk kantor pengacara milik Marlina.

Jawab:

Tuan Joko

Laporan Laba Rugi

Oktober 2015

Biaya-biaya :

·         Beban sewa

·         Beban gaji

·         Beban kendaraan

·         Beban perlengkapan

·         Beban lain-lain

Jumlah biaya-biaya

Rugi

 

Pendapatan jasa

Pendapatan tunai

Pendapatan kredit

Jumlah pendapatan

 

 

Rp. 3.000.000

Rp. 1.500.000

Rp.    780.000

Rp.    650.000

Rp.    250.000 +

 

 

 

 

Rp. 3.750.000

Rp. 2.350.000

 

 

 

 

 

 

 

Rp. 6.180.000 –

Rp.      80.000

 

 

 

 

Rp. Rp. 6.100.000

 

 

Tuan Joko

Laporan Perubahan Modal

Oktober 2015

Modal awal

Rugi

Priver Tuan Joko

 

Modal akhir

 

Rp.      80.000

Rp. 1.000.000

Rp. 5.000.000

 

 

Rp.   920.000

Rp. 3.920.000

 

Tuan Joko

Neraca

Oktober 2015

Aktiva

Kas                              Rp. 1.595.000

Piutang usaha              Rp. 2.350.000

Perlengkapan               Rp.    275.000 +

Jumlah aktiva              Rp. 4.220.000

 

Kewajiban

Utang usaha                Rp. 300.000

Modal

Modal Tuan Joko        Rp. 3.920.000 +

Jumlah kewajiban        Rp. 4.220.000

modal

 

                               

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.      Kesimpulan

Neraca adalah suatu daftar keuangan yang memuat ikhtisar tentang harta, utang dan modal suatu unit usaha atau perusahaan pada suatu saat tertentu, biasanya pada penutupan hari terakhir dari suatu bulan atau suatu tahun. Neraca merupakan laporan keuangan utama yang memberikan informasi tentang posisi keuangan pada suatu saat, menyajikan dua bagian pokok yaitu : aktiva (asset) dan pasiva (liabilities and capital).

            Aktiva adalah harta atau kekayaan yang dimiliki perusahaan, baik pada saat tertentu maupun periode tertentu. Aktiva lancar merupakan harta atau kekayaan yang segera dapat diuangkan (ditunaikan) pada saat dibutuhkan dan paling lama satu tahun.nAktiva tetap merupakan harta atau kekayaan perusahaan yang digunakan dalam jangka panjang lebih dari satu tahun. 

Hutang lancar merupakan kewajiban atau utang perusahaan kepada pihak lain yang harus sgera dibayar.

Utang jangka panjang merupakan kewajiban perusahaan pada pihak lain yang memiliki jangka waktu lebih dari satu tahun,

Kas merupakan uang tunai yang dimiliki perusahaan dan dapat segera digunakan setiap saat.

Hipotek merupakan utang perusaahn yang dijain dengan aktiva tetap tertentu.

Modal (ekuitas) merupakan hak yang dimiliki perusahaan.

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Sadeli, Dasar-dasar Akutansi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002), hlm. 19

[2] Ibid., hlm. 21-23

[3] Hery, Teori Akutansi, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 194

[4] Kasmir, Analsisi Laporan Keuangan, (Jakarta: Rajawali, 2014), hlm.32

[5] Ibid,.hlm.40

[6] Ibid, hlm.23-25

[7] Ibid., hery, Teori Akutansi, hlm.190-192

Tidak ada komentar:

Posting Komentar